Showing posts with label geologi. Show all posts
Showing posts with label geologi. Show all posts

Sunday, December 19, 2010

Global Positioning System



Global Positioning System (GPS) adalah sistem navigasi berbasis satelit yang dibangun oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, terdiri dari 24 satelit yang ditempatkan pada orbitnya masing-masing. Pada awalnya GPS diperuntukkan bagi kepentingan militer, namun pada tahun 1980-an, pemerintah Amerika Serikat membuka kesempatan bagi khalayak umum untuk menggunakannya perangkat ini. GPS mampu bekerja dalam setiap kondisi cuaca, di seluruh tempat di dunia, selama 24 jam sehari. Pemerintah Amerika Serikat tidak mengenakan biaya berlangganan atau biaya pemasangan peralatan berkaitan dengan penggunaan fasilitas GPS.

Bagaimanakah Cara Kerja GPS?







Satelit GPS mengitari bumi sebanyak 2 (dua) kali sehari dan mentransmisikan informasi berupa sinyal ke bumi. GPS receiver menerima informasi ini dan menggunakan metode triangulasi untuk menghitung dimana lokasi pemakai. Secara umum, metode yang digunakan receiver GPS dalam melakukan kalkulasi lokasi adalah dengan cara membandingkan waktu dari sinyal saat ditransmisikan dari satelit dengan waktu saat sinyal diterima oleh receiver. Selisih waktu akan menggambarkan seberapa jauh jarak antara satelit dengan GPS receiver. Dengan triangulasi dari beberapa jarak antara GPS receiver terhadap beberapa satelit lainnya, maka GPS receiver dapat menentukan posisi pemakai dan menampilkannya pada peta elektronik.

Untuk dapat menentukan lokasi pemakai, maka GPS receiver harus menerima sinyal minimal dari 3 (tiga) buah satelit untuk kalkulasi posisi 2 dimensi (latitude dan longitude) serta deteksi pergerakan. Apabila didapat sinyal dari 4 satelit, maka receiver dapat menentukan posisi pemakai dalam 3 dimensi (latitude, longitude, dan altitude). Apabila posisi pemakai telah didapat, maka unit GPS mampu mengkalkulasi informasi lain, seperti kecepatan, jejak, jarak perjalanan yang ditempuh, jarak posisi tujuan, waktu matahari terbit dan tenggelam, dsb.

Seberapa Akuratkah Perangkat GPS?





Perangkat GPS masa kini sangatlah akurat, karena telah didesain secara multi kanal paralel. Salah satu contoh adalah receiver 12 kanal paralel yang sangat cepat dalam menangkap dan mengunci sinyal yang didapat dari satelit, walaupun dalam lingkungan yang tertutup seperti di tengah-tengah gedung pencakar langit. Beberapa faktor cuaca di atmosfir dan sumber kendala lainnya dapat mempengaruhi tingkat akurasi GPS receiver. Namun, beberapa receiver telah didesain dengan toleransi kesalahan jarak maksimal rata-rata sebesar 15 meter. Beberapa desain terbaru dilengkapi dengan perangkat WAAS (Wide Area Augmentation System) yang mampu meningkatkan akurasi hingga rata-rata kurang dari 3 meter. Pemakai GPS juga dapat meningkatkan akurasi dengan menggunakan Differential GPS (DGPS), yang berfungsi mengkoreksi sinyal GPS rata-rata mencapai 3 hingga 5 meter. Penjaga pantai Amerika Serikat mengoperasikan perangkat DGPS ini, yang terdiri dari jaringan antena yang menerima sinyal GPS, kemudian mentransmisikan sinyal yang telah dikoreksi melalui sebuah transmitter khusus. Agar dapat menangkap sinyal hasil koreksi tersebut, pemakai GPS harus memiliki perangkat differential receiver dan antena khusus sebagai tambahan bagi perangkat GPS yang sudah ada.

Sistem Satelit GPS

24 satelit yang membentuk ruang segmen GPS di angkasa mengorbit pada lintasan yang mengelilingi bumi pada ketinggian 12.000 mil diatas permukaan laut. Satelit-satelit ini mengorbit secara konstan, membuat dua orbit penuh dalam waktu kurang dari 24 jam, dan dengan kecepatan 7.000 mil per jam. Seluruh satelit GPS ini menggunakan tenaga matahari, di-back up dengan baterai terpasang untuk menjaga agar mereka tetap beroperasi kendati terjadi gerhana matahari. Disaat tidak terdapat cahaya matahari, maka sebuah roket kecil yang terdapat pada setiap satelit akan beroperasi untuk menjaga satelit-satelit ini bergerak pada orbit dan kecepatan tetap.

Berikut ini adalah beberapa fakta menarik berkaitan dengan satelit GPS (yang oleh staff Departemen Pertahanan Amerika Serikat dikenal dengan sebutan NAVSTAR) :

- Satelit GPS pertama kali diluncurkan pada tahun 1978.

- Konstelasi penuh yang terdiri dari 24 satelit tercapai pada tahun 1994.

- Pembangunan setiap satelit memakan waktu kurang lebih 10 tahun. Perbaikan dan pergantian perangkat yang mengalami kerusakan hingga saat ini terus dilakukan dengan cara mengirimkan komponen ke orbit satelit.

- Sebuah satelit GPS memiliki bobot kurang lebih 2.000 pounds dan memiliki panjang 17 kaki termasuk extended solar cell panel.

- Daya yang dibutuhkan untuk melakukan transmisi kurang dari 50 watt (sangat efisien bukan?)




Seperti Apa Sinyal yang Dikirim Oleh Satelit?

Satelit GPS mentransmisikan 2 sinyal radio berdaya kecil, dengan sebutan sinyal L1 dan sinyal L2. Masyarakat umum menggunakan sinyal GPS L1 dengan frekuensi 1.575,42 MHz dalam pita UHF. Sinyal yang dipancarkan hanya mampu melintas pada ruang yang dapat tembus cahaya, seperti menembus awan, kaca, maupun plastik, namun tidak dapat menembus sebagian besar objek padat seperti bangunan dan gunung.

Sebuah sinyal GPS terdiri dari 3 bit informasi yang berbeda, yaitu pseudorandom code, ephemeris data, dan almanac data. Secara sederhana, pseudorandom code merupakan kode identitas yang menginformasikan satelit mana yang memancarkan sinyal. Pada setiap receiver, identitas ini dapat dilihat pada bagian unit satelit.

Ephemeris data menginformasikan kepada GPS receiver mengenai posisi dari setiap satelit GPS setiap waktu sepanjang hari. Setiap satelit mentransmisikan ephemeris data untuk menunjukkan informasi orbit dari satelit tersebut dan posisi satelit lain yang berada dalam sistem.

Almanac data, yang secara konstan ditransmisikan oleh setiap satelit, berisi informasi penting tentang status satelit (baik atau rusak), tanggal saat ini, dan waktu. Data ini memiliki arti sangat penting dalam menentukan posisi dari pemakai GPS.

Beberapa Hal yang Menyebabkan Defect Sinyal GPS

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan degradasi sinyal dan menyebabkan menurunnya akurasi adalah :

- Delay pada ionosfir dan troposfir. Sinyal dari satelit akan melambat ketika melewati kedua lapisan atmosfir ini. Sistem GPS menggunakan sebuah model built in yang dapat mengkalkulasi jumlah rata-rata delay sehingga dapat mengkoreksi sebagian besar kesalahan yang terjadi akibat delay ini.

- Multipath signal dapat muncul apabila sinyal GPS terpantul pada objek padat seperti bangunan tinggi atau permukaan gunung sebelum mencapai sebuah receiver. Hal ini dapat menambah waktu perjalanan dari sinyal, sehingga akan memperbesar kesalahan yang terjadi.

- Kesalahan pada receiver clock. Sebuah receiver clock yang terpasang pada GPS receiver tidaklah begitu akurat dibandingkan dengan jam atom yang terdapat pada satelit GPS. Hal ini dapat menyebabkan adanya sedikit penyimpangan waktu acuan antara waktu di satelit GPS terhadap waktu di receiver.

- Kesalahan orbit satelit, atau dikenal juga dengan ephemeris errors, yang timbul akibat ketidakakuratan laporan posisi orbit dari satelit.

- Jumlah satelit yang tampak. Semakin banyak receiver “melihat” satelit, maka semakin akuratlah informasi mengenai posisi yang dihasilkan. Bangunan, permukaan bumi, dan interferensi elektronik dapat menyebabkan hambatan penerimaan sinyal satelit, menyebabkan kesalahan posisi hingga bahkan tidak didapatkan informasi posisi sama sekali. Umumnya unit GPS tidak dapat bekerja pada ruangan tertutup, bawah laut, atau bawah tanah.

- Geometri satelit. Ini berarti posisi relatif dari setiap satelit ketika memancarkan sinyal ke receiver. Geometri satelit yang ideal didapat ketika satelit GPS berada di sudut lebar / cekungan lebar dari orbit relatif terhadap posisi satelit lainnya. Geometri yang buruk didapat ketika satelit berada pada lintasan orbit lurus atau mengumpul membentuk suatu kelompok satelit.

Saturday, August 28, 2010

Dolomit & Pasir Kuarsa

Dolomit adalah mineral yang berasal dari alam yang mengandung unsur hara magnesium dan kalsium berbentuk tepung dengan rumus kimia CaMg(CO3)2.

Dolomit termasuk rumpun mineral karbonat, mineral dolomit murni secara teoritis mengandung 45,6% MgCO3 atau 21,9% MgO dan 54,3% CaCO3 atau 30,4% CaO. Rumus kimia mineral dolomit dapat ditulis meliputi CaCO3.MgCO3, CaMg(CO 3)2 atau CaxMg1-xCO3, dengan nilai x lebih kecil dari satu. Dolomit di alam jarang yang murni, karena umumnya mineral ini selalu terdapat bersama-sama dengan batu gamping, kwarsa, rijang, pirit dan lempung. Dalam mineral dolomit terdapat juga pengotor, terutama ion besi.

Batugamping yang sebagian unsurnya kalsium diganti dengan magnesium (proses peresapan), banyak sedikitnya magnesium akan mempengaruhi nama batuan, batugamping yang mengandung 10 % MgCO3 disebut batugamping dolomitan, bila 19 % disebut dolomit.

Dolomit berwarna putih keabu-abuan atau kebiru-biruan dengan kekerasan lebih lunak dari batugamping, yaitu berkisar antara 3,50 - 4,00, bersifat pejal, berat jenis antara 2,80 - 2,90, berbutir halus hingga kasar dan mempunyai sifat mudah menyerap air serta mudah dihancurkan. Klasifikasi dolomit dalam perdagangan mineral industri didasarkan atas kandungan unsur magnesium, Mg (kimia), mineral dolomit (mineralogi) dan unsur kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Kandungan unsur magnesium ini menentukan nama dolomit tersebut. Misalnya, batugamping mengandung ± 10 % MgCO3 disebut batugamping dolomitan, sedangkan bila mengandung 19 % MgCO3 disebut dolomit.



Pasir kuarsa adalah bahan galian yang terdiri atas kristal-kristal silika (SiO2) dan mengandung senyawa pengotor yang terbawa selama proses pengendapan. Pasir kuarsa juga dikenal dengan nama pasir putih merupakan hasil pelapukan batuan yang mengandung mineral utama, seperti kuarsa dan feldspar. Hasil pelapukan kemudian tercuci dan terbawa oleh air atau angin yang terendapkan di tepi-tepi sungai, danau atau laut.

Pasir kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari SiO2, Fe2O3, Al2O3, TiO2, CaO, MgO, dan K2O, berwarna putih bening atau warna lain bergantung pada senyawa pengotornya, kekerasan 7 (skala Mohs), berat jenis 2,65, titik lebur 17150C, bentuk kristal hexagonal, panas sfesifik 0,185, dan konduktivitas panas 12 – 1000C.

Dalam kegiatan industri, penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang meluas, baik langsung sebagai bahan baku utama maupun bahan ikutan. Sebagai bahan baku utama, misalnya digunakan dalam industri gelas kaca, semen, tegel, mosaik keramik, bahan baku fero silikon, silikon carbide bahan abrasit (ampelas dan sand blasting). Sedangkan sebagai bahan ikutan, misal dalam industri cor, industri perminyakan dan pertambangan, bata tahan api (refraktori), dan lain sebagainya.

Cadangan pasir kuarsa terbesar terdapat di Sumatera Barat, potensi lain terdapat di Kalimantan Barat, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Pulau Bangka dan Belitung.

Monday, August 23, 2010

Jenis-Jenis Tanah dan Proses Pembentukan Tanah

Interaksi antara faktor-faktor pembentuk tanah akan menghasilkan tanah dengan sifat-sifat yang berbeda. Berdasarkan pada faktor pembentuk dan sifat tanah inilah, beberapa ahli mengklasifikasikan tanah dengan klasifikasi yang berbeda.

Tingkat kategori yang sudah banyak dikembangkan dalam survei dan pemetaan tanah di Indonesia, yaitu tingkat kategori jenis (great soil group). Klasifikasi jenis-jenis tanah pada tingkat tersebut sering digunakan untuk mengelompokkan tanah di Indonesia

  • Tanah Organosol atau Tanah Gambut

Tanah jenis ini berasal dari bahan induk organik dari hutan rawa,
mempunyai ciri warna cokelat hingga kehitaman, tekstur debulempung,
tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat sampai dengan agak lekat, dan kandungan unsur hara rendah. Tanah ini terbentuk karena adanya proses pembusukan dari sisa-sisa tumbuhan rawa. Banyak terdapat di rawa Sumatra, Kalimantan, dan Papua, kurang baik untuk pertanian maupun perkebunan karena derajat keasaman tinggi.

  • Tanah Aluvial

Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan. Bahannya berasal dari material halus yang diendapkan oleh aliran sungai. Oleh karena itu, tanah jenis ini banyak terdapat di daerah datar sepanjang aliran sungai

  • Tanah Regosol

Tanah ini merupakan endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar. Penyebaran terutama pada daerah lereng gunung api. Tanah ini banyak terdapat di daerah Sumatra bagian timur dan barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

  • Tanah Litosol

Tanah litosol merupakan jenis tanah berbatu-batu dengan lapisan tanah yang tidak begitu tebal. Bahannya berasal dari jenis batuan beku yang belum mengalami proses pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini banyak ditemukan di lereng gunung dan pegunungan di seluruh Indonesia.

  • Tanah Latosol

Latosol tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 mm/tahun, dan ketinggian tempat berkisar 300–1.000 meter. Tanah ini terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.

  • Tanah Grumusol

Jenis ini berasal dari batu kapur, batuan lempung, tersebar di daerah iklim subhumid atau subarid, dan curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun.

  • Tanah Podsolik

Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih 2.500 mm/ tahun. Tekstur lempung hingga berpasir, kesuburan rendah hingga sedang, warna merah, dan kering.

  • Tanah Podsol

Jenis tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Penyebaran di daerah beriklim basah, topografi pegunungan, misalnya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Papua Barat. Kesuburan tanah rendah

  • Tanah Andosol

Tanah jenis ini berasal dari bahan induk abu vulkan. Penyebaran di daerah beriklim sedang dengan curah hujan di atas 2.500 mm/ tahun tanpa bulan kering. Umumnya dijumpai di daerah lereng atas kerucut vulkan pada ketinggian di atas 800 meter. Warna tanah jenis ini umumnya cokelat, abu-abu hingga hitam.

  • Tanah Mediteran Merah Kuning

Tanah jenis ini berasal dari batuan kapur keras (limestone). Penyebaran di daerah beriklim subhumid, topografi karst dan lereng vulkan dengan ketinggian di bawah 400 m. Warna tanah cokelat hingga merah. Khusus tanah mediteran merah kuning di daerah topografi karst disebut ”Terra Rossa”.

  • Hidromorf Kelabu

Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal yaitu topografi yang berupa dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air, dan warna kelabu hingga kekuningan.

Proses Pembentukan Tanah

Proses pembentukan tanah diawali dari pelapukan batuan, baik pelapukan fisik maupun pelapukan kimia. Dari proses pelapukan ini, batuan akan menjadi lunak dan berubah komposisinya. Pada tahap ini batuan yang lapuk belum dikatakan sebagai tanah, tetapi sebagai bahan tanah (regolith) karena masih menunjukkan struktur batuan induk.
Proses pelapukan terus berlangsung hingga akhirnya bahan induk tanah berubah menjadi tanah. Nah, proses pelapukan ini menjadi awal terbentuknya tanah. Sehingga faktor yang mendorong pelapukan juga berperan dalam pembentukan tanah.

Curah hujan dan sinar matahari berperan penting dalam proses pelapukan fisik, kedua faktor tersebut merupakan komponen iklim. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor pembentuk tanah adalah iklim. Ada beberapa faktor lain yang memengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu organisme, bahan induk, topografi, dan waktu. Faktor-faktor tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.

proses pembentukan tanah

Susunan Tanah

Batuan: Macam dan Pembentukannya

PEMBENTUKAN BATUAN

Pembentukan berbagai macam mineral di alam akan menghasilkan berbagai jenis batuan tertentu. Proses alamiah tersebut bisa berbeda-beda dan membentuk jenis batuan yang berbeda pula. Pembekuan magma akan membentuk berbagai jenis batuan beku. Batuan sedimen bisa terbentuk karena berbagai proses alamiah, seperti proses penghancuran atau disintegrasi batuan, pelapukan kimia, proses kimiawi dan organis serta proses penguapan/ evaporasi. Letusan gunung api sendiri dapat menghasilkan batuan piroklastik. Batuan metamorf terbentuk dari berbagai jenis batuan yang telah terbentuk lebih dahulu kemudian mengalami peningkatan temperature atau tekanan yang cukup tinggi, namun peningkatan temperature itu sendiri maksimal di bawah temperature magma.

SIKLUS BATUAN

BATUAN BEKU

Magma dapat mendingin dan membeku di bawah atau di atas permukaan bumi. Bila membeku di bawah permukaan bumi, terbentuklah batuan yang dinamakan batuan beku dalam atau disebut juga batuan beku intrusive (sering juga dikatakan sebagai batuan beku plutonik). Sedangkan, bila magma dapat mencapai permukaan bumi kemudian membeku, terbentuklah batuan beku luar atau batuan beku ekstrusif.

BATUAN BEKU DALAM

Magma yang membeku di bawah permukaan bumi, pendinginannya sangat lambat (dapat mencapai jutaan tahun), memungkinkan tumbuhnya kristal-kristal yang besar dan sempurna bentuknya, menjadi tubuh batuan beku intrusive. Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, tergantung pada kondisi magma dan batuan di sekitarnya. Magma dapat menyusup pada batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan-rekahan pada batuan di sekelilingnya.

Bentuk-bentuk batuan beku yang memotong struktur batuan di sekitarnya disebut diskordan, termasuk di dalamnya adalah batholit, stok, dyke, dan jenjang volkanik.

* Batholit, merupakan tubuh batuan beku dalam yang paling besar dimensinya. Bentuknya tidak beraturan, memotong lapisan-lapisan batuan yang diterobosnya. Kebanyakan batolit merupakan kumpulan massa dari sejumlah tubuh-tubuh intrusi yang berkomposisi agak berbeda. Perbedaan ini mencerminkan bervariasinya magma pembentuk batholit. Beberapa batholit mencapai lebih dari 1000 km panjangnya dan 250 km lebarnya. Dari penelitian geofisika dan penelitian singkapan di lapangan didapatkan bahwa tebal batholit antara 20-30 km. Batholite tidak terbentuk oleh magma yang menyusup dalam rekahan, karena tidak ada rekahan yang sebesar dimensi batolit. Karena besarnya, batholit dapat mendorong batuan yang di1atasnya. Meskipun batuan yang diterobos dapat tertekan ke atas oleh magma yang bergerak ke atas secara perlahan, tentunya ada proses lain yang bekerja. Magma yang naik melepaskan fragmen-fragmen batuan yang menutupinya. Proses ini dinamakan stopping. Blok-blok hasil stopping lebih padat dibandingkna magma yang naik, sehingga mengendap. Saat mengendap fragmen-fragmen ini bereaksi dan sebagian terlarut dalam magma. Tidak semua magma terlarut dan mengendap di dasar dapur magma. Setiap frgamen batuan yang berada dalam tubuh magma yang sudah membeku dinamakan Xenolith.

* Stock, seperti batolit, bentuknya tidak beraturan dan dimensinya lebih kecil dibandingkan dengan batholit, tidak lebih dari 10 km. Stock merupakan penyerta suatu tubuh batholit atau bagian atas batholit.

* Dyke, disebut juga gang, merupakan salah satu badan intrusi yang dibandingkan dengan batholit, berdimensi kecil. Bentuknya tabular, sebagai lembaran yang kedua sisinya sejajar, memotong struktur (perlapisan) batuan yang diterobosnya.

* Jenjang Volkanik, adalah pipa gunung api di bawah kawah yang mengalirkan magma ke kepundan. Kemudaia setelah batuan yang menutupi di sekitarnya tererosi, maka batuan beku yang bentuknya kurang lebih silindris dan menonjol dari topografi disekitarnya.

Bentuk-bentuk yang sejajar dengan struktur batuan di sekitarnya disebut konkordan diantaranya adalah sill, lakolit dan lopolit.

* Sill, adalah intrusi batuan beku yang konkordan atau sejajar terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya. Berbentuk tabular dan sisi-sisinya sejajar.

* Lakolit, sejenis dengan sill. Yang membedakan adalah bentuk bagian atasnya, batuan yang diterobosnya melengkung atau cembung ke atas, membentuk kubah landai. Sedangkan, bagian bawahnya mirip dengan Sill. Akibat proses-proses geologi, baik oleh gaya endogen, maupun gaya eksogen, batuan beku dapt tersingka di permukaan.

* Lopolit, bentuknya mirip dengan lakolit hanya saja bagian atas dan bawahnya cekung ke atas.

Batuan beku dalam selain mempunyai berbagai bentuk tubuh intrusi, juga terdapat jenis batuan berbeda, berdasarkan pada komposisi mineral pembentuknya. Batuan-batuan beku luar secara tekstur digolongkan ke dalam kelompok batuan beku fanerik.

BATUAN BEKU LUAR

Magma yang mencapai permukaan bumi, keluar melalui rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi, mendingin dengan cepat dan membeku menjadi batuan ekstrusif. Keluarnya magma di permukaan bumi melalui rekahan disebut sebagai fissure eruption. Pada umumnya magma basaltis yang viskositasnya rendah dapat mengalir di sekitar rekahannya, menjadi hamparan lava basalt yang disebut plateau basalt. Erupsi yang keluar melalui lubang kepundan gunung api dinamakan erupsi sentral. Magma dapat mengalir melaui lereng, sebagai aliran lava atau ikut tersembur ke atas bersama gas-gas sebagai piroklastik. Lava terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis tergantung apda komposisi magmanya dan tempat terbentuknya.

Apabila magma membeku di bawah permukaan air terbentuklah lava bantal (pillow lava), dinamakan demikian karena pembentukannya di bawah tekanan air.

Dalam klasifikasi batuan beku batuan beku luar terklasifikasi ke dalam kelompok batuan beku afanitik.

KLASIFIKASI BATUAN BEKU

Pengelompokan atau klasifikasi batuan beku secara sederhana didasarkan atas tekstur dan komposisi mineralnya. Keragaman tekstur batuan beku diakibatkan oleh sejarah pendinginan magma, sedangkan komposisi mineral bergantung pada kandungan unsure kimia magma induk dan lingkungan krsitalisasinya.

Tekstur Batuan Beku

Beberapa tekstur batuan beku yang umum adalah:

1. Gelas (Glassy), tidak berbutir atau tidak memiliki Kristal (amorf)

2. Afanitik (fine grained texture), bebrutir sangat halus à hanya dapat dilihat dengan mikroskop

3. Fanerik (coarse grained texture), berbutir cukup besar sehingga komponen mineral pembentuknya dapat dibedakan secara megaskopis.

4. Porfiritik, merupakan tekstur yang khusus di mana terdapat campuran antara butiran-butian kasar di dalam massa dengan butiran-butiran yang lebih halus. Butiran besar yang bentuknya relative sempurna disebut Fenokrist sedangkan butiran halus di sekitar fenokrist disebut massadasar.

Secara ringkas, klasifikasi batuan beku dapat dinyatakan sebagai berikut:

BATUAN METAMORF

Batuan metamorf adalah jenis batuan yang secara genetis terebntuk oleh perubahan secara fisik dari komposisi mineralnya serta perubahan tekstru dan strukturnya akibat pengaruh tekanan (P) dan temperature (T) yang cukup tinggi. Kondisi-kondisi yang harus terpenuhi dalam pembentukan batuan metamorf adalah:

· Terjadi dalam suasana padat

· Bersifat isokimia

· Terbentuknya mineral baru yang merupakan mineral khas metamorfosa

· Terbentuknya tekstur dan struktur baru.

Proses metamorfosa diakibatkan oleh dua factor utama yaitu Tekanan dan Temperatur (P dan T). Panas dari intrusi magma adalah sumber utama yang menyebabkan metamorfosa.Tekanan terjadi diakibatkan oleh beban perlapisan diatas (lithostatic pressure) atau tekanan diferensial sebagai hasil berbagai stress misalnya tektonik stress (differential stress). Fluida yang berasal dari batuan sedimen dan magma dapat mempercepat reaksi kima yang berlangsung pada saat proses metamorfosa yang dapat menyebabkan pembentukan mineral baru. Metamorfosis dapat terjadi di setiap kondisi tektonik, tetapi yang paling umum dijumpai pada daerah kovergensi lempeng.

Jenis-jenis metamorfosa adalah:

* Metamorfosa kontak à dominan pengaruh suhu

* Metamorfosa dinamik à dominan pengaruh tekanan

* Metamorfosa Regional à kedua-duanya (P dan T) berpengaruh

Fasies metamorfosis dicirikan oleh mineral atau himpunan mineral yang mencirikan sebaran T dan P tertentu. Mineral-mineral itu disebut sebagai mineral index. Beberapa contoh mineral index antara lain:

· Staurolite: intermediate à high-grade metamorphism

· Actinolite: low à intermediate metamorphism

· Kyanite: intermediate à high-grade

· Silimanite: high grade metamorphism

· Zeolite: low grade metamorphism

· Epidote: contact metamorphism

Pada prinsipnya batuan metamorfosa diklasifikasikan berdasarkan struktur. Strukturfoliasi terjadi akibat orientasi dari mineral, sedangkan non-foliasi yang tidak memperlihatkan orientasi mineral. Foliasi merujuk kepada kesejajaran dan segregasi mineral-mineral pada batuan metamorf yang inequigranular.

Batuan metamorf befoliasi membentuk urutan berdasarkan besar butir dan atau berdasarkan perkembangan foliasi. Urut-urutannya adalah: slate à phyllite à schist àgneiss. Selain menunjukkan besar butir dan derajat foliasi urut-urutan ini juga menunjukkan kandungan mika yang semakin banyak dari kiri ke kanan. Salah satu ciri khas batuan metamorf yang dapat teridentifikasi adalah kenampakkan kilap mika.

Sedangkan, untuk batuan metamorf non-foliasi contohnya adalah marmer, kuarsit dan hornfels.

Sementara itu, untuk tekstur mineral pada batuan metamorfosa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

· Lepidoblastik : terdiri dari mineral-mineral tabular/pipih, misalnya mineral mika (muskovit, biotit)

· Nematoblastik : terdiri dari mineral-mineral prismatik, misalnya mineral plagioklas, k-felspar, piroksen

· Granoblastik : terdiri dari mineral-mineral granular (equidimensional), dengan batas-batas sutura (tidak teratur), dengan bentuk mineral anhedral, misalnya kuarsa.

· Tekstur Homeoblastik : bila terdiri dari satu tekstur saja, misalnya lepidoblastik saja.

· Tekstur Hetereoblastik : bila terdiri lebih dari satu tekstur, misalnya lepidoblastik dan granoblastik

BATUAN PIROKLASTIK

Berdasarkan kata pembentuknya:

Pyro à pijar

Klastik à fragmen

Dapat disimpulkan bahwa batuan piroklastik adalah suatu batuan yang terbentuk darihasil langsung letusan gunung api (direct blast) yang kemudian terendapkan pada permukaan sesuai dengan keadaan permukaannya (endapan piroklastik) dan lalu mengalami litifikasi untuk menjadi batuan piroklastik.

Mekanisme pengendapan piroklast adalah sebagai berikut:

· Pyroclastic Flow Deposits

Macam :

- block & ash flows

-scoria flows

-pumice / ash flows

Distribusi / penyebaran : di lembah / depresi; struktur : perlapisan (graded bedding, paralel laminasi); tekstur : sortasi buruk, terdiri dari kristal, litik, dan gelas (pumis); bagian bawah : pyroclastic surge deposits

· Pyroclastic Fall Deposits

· Pyroclastic Surge Deposits

Partikel, gas dan air vulkanik konsentrasi rendah yang mengalir dalam mekanisme turbulensi sebagai sebuah gravity flow (runtuhan). Macam-macamnya adalah base, ground dan ash cloud. Strukturnya cross-bedding dengan sortasi yang buruk.

Klasifikasi batuan piroklastik berdasrkan ukurannya (Schmid, 1981)

Ukuran

Piroklas

Endapan piroklastik

Tefra (tak terkonsolidasi)

Batuanpiroklastik (terkonsolidasi)

> 64 mm

Bom, blok

Lapisan bom / blok

Tefra bom atau blok

Aglomerat, breksi piroklastik

2 – 64 mm

lapili

Lapisan lapili atau

Tefra lapili

Batulapili (lapillistone)

1/16 – 2 mm

Abu/debu kasar

Abu kasar

Tuf kasar

<>

Abu/debu halus

Abu/debu halus

tuf halus

Berdasarkan terbentuknya, fragmen piroklast dapat dibagi menjadi:

· Juvenile pyroclasts : hasil langsung akibat letusan, membeku dipermukaan (fragmen gelas, kristal pirojenik)

· Cognate pyroclasts : fragmen batuan hasil erupsi terdahulu (dari gunungapi yang sama)

· Accidental pyroclasts : fragmen batuan berasal dari basement (komposisi berbeda)

Fragmen:

1. Gelas/ Amorf

2. Litik

3. Kristalin

MINERAL-MINERAL ALTERASI

Alterasi = Metasomatisme

Merupakan perubahan komposisi mineralogy batuan (dalam keadaan padat) karena pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi isokimia menghasilkan mineral lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam.

Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder, tidak selayaknya metamorfisme yang merupakan peristiwa primer. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang memungkinkan masuknya air meteoric untuk dapat mengubah komposisi mineralogy batuan.

Beberapa contoh mineral alterasi antara lain:

· Kalkopirit

· Pirit

· Limonit

· Garnierit

· Epidote

· Malakit

· Khlorit

· Orphiment

· Realgar

· Galena

BATUAN SEDIMEN

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari pecahan atau hasil abrasi dari sedimen, batuan beku, metamorf yang tertransport dan terendapkan kemudian terlithifikasi.

Ada dua tipe sedimen yaitu: detritus dan kimiawi. Detritus terdiri dari partikel-2 padat hasil dari pelapukan mekanis. Sedimen kimiawi terdiri dari mineral sebagai hasil kristalisasi larutan dengan proses inorganik atau aktivitas organisme. Partikel sedimen diklasifikasikan menurut ukuran butir, gravel (termasuk bolder, cobble dan pebble), pasir, lanau, dan lempung. Transportasi dari sedimen menyebabkan pembundaran dengan cara abrasi dan pemilahan (sorting). Nilai kebundaran dan sorting sangat tergantung pada ukuran butir, jarak transportasi dan proses pengendapan. Proses litifikasi dari sedimen menjadi batuan sedimen terjadi melalui kompaksi dan sementasi.

Batuan sedimen dapat dibagi menjadi 3 golongan:

1. Batuan sedimen klastik à terbentuk dari fragmen batuan lain ataupun mineral

2. Batuan sedimen kimiawi à terbentuk karena penguapan, evaporasi

3. Batuan sedimen organic à terbentuk dari sisa-sisa kehidupan hewan/ tumbuhan

Klasifikasi batuan sedimen klastik adalah berdasarkan besar butirnya, oleh karenanya digunakan skala Wentworth. Sedangkan untuk klasifikasi batuan sedimen kimiawi dilakukan berdasarkan matriks maupun fragmennya dengan klasifikasi dari Dunham, Embry-Klovan.

Ada tambahan video hasil browsing di you-tube dan saya rasa ini sangat bermanfaat! Coba ditonton, bisa membantu untuk identifikasi spesimen batuan loh… :D









copas by;