Sunday, December 19, 2010
Global Positioning System
Global Positioning System (GPS) adalah sistem navigasi berbasis satelit yang dibangun oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, terdiri dari 24 satelit yang ditempatkan pada orbitnya masing-masing. Pada awalnya GPS diperuntukkan bagi kepentingan militer, namun pada tahun 1980-an, pemerintah Amerika Serikat membuka kesempatan bagi khalayak umum untuk menggunakannya perangkat ini. GPS mampu bekerja dalam setiap kondisi cuaca, di seluruh tempat di dunia, selama 24 jam sehari. Pemerintah Amerika Serikat tidak mengenakan biaya berlangganan atau biaya pemasangan peralatan berkaitan dengan penggunaan fasilitas GPS.
Bagaimanakah Cara Kerja GPS?
Satelit GPS mengitari bumi sebanyak 2 (dua) kali sehari dan mentransmisikan informasi berupa sinyal ke bumi. GPS receiver menerima informasi ini dan menggunakan metode triangulasi untuk menghitung dimana lokasi pemakai. Secara umum, metode yang digunakan receiver GPS dalam melakukan kalkulasi lokasi adalah dengan cara membandingkan waktu dari sinyal saat ditransmisikan dari satelit dengan waktu saat sinyal diterima oleh receiver. Selisih waktu akan menggambarkan seberapa jauh jarak antara satelit dengan GPS receiver. Dengan triangulasi dari beberapa jarak antara GPS receiver terhadap beberapa satelit lainnya, maka GPS receiver dapat menentukan posisi pemakai dan menampilkannya pada peta elektronik.
Untuk dapat menentukan lokasi pemakai, maka GPS receiver harus menerima sinyal minimal dari 3 (tiga) buah satelit untuk kalkulasi posisi 2 dimensi (latitude dan longitude) serta deteksi pergerakan. Apabila didapat sinyal dari 4 satelit, maka receiver dapat menentukan posisi pemakai dalam 3 dimensi (latitude, longitude, dan altitude). Apabila posisi pemakai telah didapat, maka unit GPS mampu mengkalkulasi informasi lain, seperti kecepatan, jejak, jarak perjalanan yang ditempuh, jarak posisi tujuan, waktu matahari terbit dan tenggelam, dsb.
Seberapa Akuratkah Perangkat GPS?
Perangkat GPS masa kini sangatlah akurat, karena telah didesain secara multi kanal paralel. Salah satu contoh adalah receiver 12 kanal paralel yang sangat cepat dalam menangkap dan mengunci sinyal yang didapat dari satelit, walaupun dalam lingkungan yang tertutup seperti di tengah-tengah gedung pencakar langit. Beberapa faktor cuaca di atmosfir dan sumber kendala lainnya dapat mempengaruhi tingkat akurasi GPS receiver. Namun, beberapa receiver telah didesain dengan toleransi kesalahan jarak maksimal rata-rata sebesar 15 meter. Beberapa desain terbaru dilengkapi dengan perangkat WAAS (Wide Area Augmentation System) yang mampu meningkatkan akurasi hingga rata-rata kurang dari 3 meter. Pemakai GPS juga dapat meningkatkan akurasi dengan menggunakan Differential GPS (DGPS), yang berfungsi mengkoreksi sinyal GPS rata-rata mencapai 3 hingga 5 meter. Penjaga pantai Amerika Serikat mengoperasikan perangkat DGPS ini, yang terdiri dari jaringan antena yang menerima sinyal GPS, kemudian mentransmisikan sinyal yang telah dikoreksi melalui sebuah transmitter khusus. Agar dapat menangkap sinyal hasil koreksi tersebut, pemakai GPS harus memiliki perangkat differential receiver dan antena khusus sebagai tambahan bagi perangkat GPS yang sudah ada.
Sistem Satelit GPS
24 satelit yang membentuk ruang segmen GPS di angkasa mengorbit pada lintasan yang mengelilingi bumi pada ketinggian 12.000 mil diatas permukaan laut. Satelit-satelit ini mengorbit secara konstan, membuat dua orbit penuh dalam waktu kurang dari 24 jam, dan dengan kecepatan 7.000 mil per jam. Seluruh satelit GPS ini menggunakan tenaga matahari, di-back up dengan baterai terpasang untuk menjaga agar mereka tetap beroperasi kendati terjadi gerhana matahari. Disaat tidak terdapat cahaya matahari, maka sebuah roket kecil yang terdapat pada setiap satelit akan beroperasi untuk menjaga satelit-satelit ini bergerak pada orbit dan kecepatan tetap.
Berikut ini adalah beberapa fakta menarik berkaitan dengan satelit GPS (yang oleh staff Departemen Pertahanan Amerika Serikat dikenal dengan sebutan NAVSTAR) :
- Satelit GPS pertama kali diluncurkan pada tahun 1978.
- Konstelasi penuh yang terdiri dari 24 satelit tercapai pada tahun 1994.
- Pembangunan setiap satelit memakan waktu kurang lebih 10 tahun. Perbaikan dan pergantian perangkat yang mengalami kerusakan hingga saat ini terus dilakukan dengan cara mengirimkan komponen ke orbit satelit.
- Sebuah satelit GPS memiliki bobot kurang lebih 2.000 pounds dan memiliki panjang 17 kaki termasuk extended solar cell panel.
- Daya yang dibutuhkan untuk melakukan transmisi kurang dari 50 watt (sangat efisien bukan?)
Seperti Apa Sinyal yang Dikirim Oleh Satelit?
Satelit GPS mentransmisikan 2 sinyal radio berdaya kecil, dengan sebutan sinyal L1 dan sinyal L2. Masyarakat umum menggunakan sinyal GPS L1 dengan frekuensi 1.575,42 MHz dalam pita UHF. Sinyal yang dipancarkan hanya mampu melintas pada ruang yang dapat tembus cahaya, seperti menembus awan, kaca, maupun plastik, namun tidak dapat menembus sebagian besar objek padat seperti bangunan dan gunung.
Sebuah sinyal GPS terdiri dari 3 bit informasi yang berbeda, yaitu pseudorandom code, ephemeris data, dan almanac data. Secara sederhana, pseudorandom code merupakan kode identitas yang menginformasikan satelit mana yang memancarkan sinyal. Pada setiap receiver, identitas ini dapat dilihat pada bagian unit satelit.
Ephemeris data menginformasikan kepada GPS receiver mengenai posisi dari setiap satelit GPS setiap waktu sepanjang hari. Setiap satelit mentransmisikan ephemeris data untuk menunjukkan informasi orbit dari satelit tersebut dan posisi satelit lain yang berada dalam sistem.
Almanac data, yang secara konstan ditransmisikan oleh setiap satelit, berisi informasi penting tentang status satelit (baik atau rusak), tanggal saat ini, dan waktu. Data ini memiliki arti sangat penting dalam menentukan posisi dari pemakai GPS.
Beberapa Hal yang Menyebabkan Defect Sinyal GPS
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan degradasi sinyal dan menyebabkan menurunnya akurasi adalah :
- Delay pada ionosfir dan troposfir. Sinyal dari satelit akan melambat ketika melewati kedua lapisan atmosfir ini. Sistem GPS menggunakan sebuah model built in yang dapat mengkalkulasi jumlah rata-rata delay sehingga dapat mengkoreksi sebagian besar kesalahan yang terjadi akibat delay ini.
- Multipath signal dapat muncul apabila sinyal GPS terpantul pada objek padat seperti bangunan tinggi atau permukaan gunung sebelum mencapai sebuah receiver. Hal ini dapat menambah waktu perjalanan dari sinyal, sehingga akan memperbesar kesalahan yang terjadi.
- Kesalahan pada receiver clock. Sebuah receiver clock yang terpasang pada GPS receiver tidaklah begitu akurat dibandingkan dengan jam atom yang terdapat pada satelit GPS. Hal ini dapat menyebabkan adanya sedikit penyimpangan waktu acuan antara waktu di satelit GPS terhadap waktu di receiver.
- Kesalahan orbit satelit, atau dikenal juga dengan ephemeris errors, yang timbul akibat ketidakakuratan laporan posisi orbit dari satelit.
- Jumlah satelit yang tampak. Semakin banyak receiver “melihat” satelit, maka semakin akuratlah informasi mengenai posisi yang dihasilkan. Bangunan, permukaan bumi, dan interferensi elektronik dapat menyebabkan hambatan penerimaan sinyal satelit, menyebabkan kesalahan posisi hingga bahkan tidak didapatkan informasi posisi sama sekali. Umumnya unit GPS tidak dapat bekerja pada ruangan tertutup, bawah laut, atau bawah tanah.
- Geometri satelit. Ini berarti posisi relatif dari setiap satelit ketika memancarkan sinyal ke receiver. Geometri satelit yang ideal didapat ketika satelit GPS berada di sudut lebar / cekungan lebar dari orbit relatif terhadap posisi satelit lainnya. Geometri yang buruk didapat ketika satelit berada pada lintasan orbit lurus atau mengumpul membentuk suatu kelompok satelit.
Friday, November 5, 2010
koreksi koordinat.....
klo ada pertanyan atau apapun itu,,,, silakan tinggalkan komentar anda...... mari belajar bersama.....
Saturday, August 28, 2010
Peta Topografi & Cara Pembacaan Konturnya
Di Indonesia, khususnya pada tambang batubara, di mana keberadaan potensi batubaranya masih banyak yang dijumpai pada kedalaman kecil (dangkal), maka tambang terbuka adalah pilihan yang paling tepat dan ekonomis. Tetapi di Jepang, di mana peraturan tentang perubahan bentang alam (morfologi) sangat ketat, semua tambang batubara yang beroperasi pada abad 20,menerapkan tambang bawah tanah. Ketetapan tersebut juga mensyaratkan potensi batubara yangberada pada kedalaman 250 meter di bawah dasar cekungan air (laut maupun danau) tidak boleh ditambang. Dalam hal ini peta topografi tidak akan banyak gunanya bagi perencanaan tambang, kecuali untuk penempatan fasilitas-fasilitas tambang yang memang harus berada di permukaan.
Untuk kebutuhan perencanaan tambang terbuka, peta topografi memegang peranan sentral, karena dari sini nantinya akan diturunkan beberapa satuan peta, seperti:
Peta hasil eksplorasi, yang memuat informasi tentang posisi singkapan batubara, posisi titik bor, dll.
Peta ketebalan batubara
Peta ketebalan overburden
Peta distribusi fungsi kualitas, misalnya kadar sulfur, distribusi kalori, dll.
Peta jalan tambang dan kemiringan lereng
Peta kemajuan tambang
Peta perencanaan drainase tambang (peta penyaliran) Dan lain-lain
Dengan demikian pemahaman tentang peta topografi bagi seorang perencana tambang adalah mutlak.
Jenis Peta
Jenis-jenis peta bisa dikelompokkan berdasarkan isi, skala, penurunan serta penggunaannya.
Pengelompokan peta berdasarkan isinya: seperti, Peta Hidrografi (Peta Bathymetri), Peta Geologi, Peta Kadaster (peta kepemilikan tanah), Peta Irigasi (jaringan saluran air) dan lain-lain.
Pengelompokan peta berdasarkan skalanya: peta skala besar (1 : 10.000 atau lebih besar), peta skala sedang (1 : 10.000 - 1 : 100.000), peta skala kecil (< 1 : 100.000).
Peta berdasarkan penurunan dan penggunaan: Peta Dasar, digunakan untuk membuat peta turunan dan perencanaan umum maupun pengembangan suatu wilayah,
Peta Tematik, dibuat atau diturunkan berdasarkan peta dasar dan memuat tema-tema tertentu. Peta tanpa skala akan mengurangi arti dan fungsinya atau bahkan tidak berguna. Skala peta menunjukkan ketelitian dan kelengkapan informasi yang tersaji dalam peta. Peta skala besar lebih teliti dan lebih lengkap dibandingkan peta skala kecil. Skala peta bisa dinyatakan dengan: persamaan (engineer's scale), skala perbandingan, skala numeris atau skala fraksi (numerical or fractional scale) dan grafis (graphical scale).
Susunan Peta
Peta merupakan media untuk menyimpan dan menyajikan informasi tentang rupa bumi dengan penyajian pada skala tertentu. Untuk memudahkan pengelolaan dan pencarian, dibuat indeks peta dalam bentuk teks atau grafis. Gambar unsur rupa bumi pada skala tertentu tidak selalu dapat disajikan sesuai ukurannya karena terlalu kecil untuk digambarkan. Bila unsur itu dianggap penting untuk disajikan, maka penyajiannya menggunakan simbol gambar tertentu. Supaya peta mudah dibaca dan dipahami, maka aneka ragam informasi peta pada skala tertentu harus disajikan dengan cara-cara tertentu, yaitu:
Simbol
Warna : digunakan untuk membedakan berbagai obyek, misalnya jalan, sungai, rel dan lain-lainnya.
Daftar kumpulan simbol pada suatu peta disebut legenda peta. : digunakan untuk membedakan atau merinci lebih jauh dari simbol suatu obyek, misalnya warna batupasir pada Peta Geologi berwarna kuning, batulempung berwarna hijau dll. Kumpulan simbol dan notasi pada suatu peta biasa disusun dalam satu kelompok legenda peta yang selalu disajikan dalam setiap lembar peta. Unsur legenda peta biasa dibakukan agar memudahkan pembacaan dan interpretasi berbagai peta oleh berbagai pemakai dengan berbagai keperluan.
Suatu peta bernilai informasi tinggi jika di dalamnya memuat unsur-unsur, di antaranya adalah; skala peta, informasi ketinggian (atau kontur), informasi arah (biasanya utara peta), koordinat, legenda, indeks peta, serta unsur-unsur lain yang dipandang perlu.
Koordinat Peta
Di dalam peta yang umum kita jumpai, kita mendapatkan nilai koordinat peta dalam beberapa sistem seperti koordinat Bassel, koordinat UTM serta koordinat lokal. Pada peta topografi atau peta geologi yang digunakan di Indonesia umumnya menganut sistem koordinat UTM. Sedangkan bila kita melakukan pengukuran langsung di lapangan menggunakan alat ukur theodolite, umumnya kita menggunakan koordinat lokal. Untuk merubah koordinat lokal menjadi koordinat UTM, maka pada awal pengukuran, saat pembuatan poligon, sebelumnya harus diikatkan kepada satu titik tetap (benchmark) yang posisinya koordinat UTM-nya sudah diketahui. Sehingga dengan demikian konversi terhadap koordinat UTM dapat dilakukan.
Garis Kontur

Garis Kontur Salah satu unsur yang penting pada suatu peta topografi adalah informasi tentang tinggi (elevasi) suatu tempat terhadap rujukan tertentu. Untuk menyajikan variasi ketinggian suatu tempat pada peta topografi, umumnya digunakan garis kontur (contour-line). Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan ketinggian sama. Garis kontur + 25 m, artinya garis kontur ini menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama + 25 m terhadap referensi tinggi tertentu. Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar peta. Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu, maka bentuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala.
Kontur topografi adalah garis khayal untuk menggambarkan semua titik yang mempunyai ketinggian yang sama di atas atau di bawah permukaan datum tertentu yang disebut permukaan laut rata-rata. Kontur digambarkan dengan interval vertikal yang reguler. Interval kontur adalah jarak vertikal antara 2 (dua) garis ketinggian yang ditentukan berdasarkan skalanya. Besarnya interval kontur sesuai dengan skala peta dan keadaan di muka bumi. Interval kontur selalu dinyatakan secara jelas di bagian bawah tengah di atas skala grafis.
Kontur biasanya digambar dalam bentuk garis-garis utuh yang kontinyu (biasanya berwarna cokelat atau oranye). Setiap kontur keempat atau kelima (tergantung pada intervalnya) dibuatlah indeks, dan digambarkan dengan garis yang lebih tebal. Kontur indeks dimaksudkan untuk membantu pembacaan kontur dan menghitung kontur untuk menentukan tinggi. Angka (ketinggian) kontur diletakkan pada bagian kontur yang diputus, dan diurutkan sedemikian rupa agar terbaca searah dengan kemiringan ke arah atas (lebih tinggi).
Pada daerah datar yang jarak horisontalnya lebih dari 40 mm sesuai skala peta dibuat garis kontur bantu. Kontur bantu ini sangat berarti terutama jika ada gundukan kecil pada daerah yang datar. Kontur bantu digambar pada peta berupa garis putus-putus untuk membedakan dengan kontur standar.
Bentuk suatu kontur menggambarkan bentuk permukaan lahan yang sebenarnya. Kontur-kontur yang berdekatan menunjukkan kemiringan yang terjal, kontur-kontur yang berjauhan menunjukkan kemiringan yang landai. Jika kontur-kontur itu memiliki jarak satu sama lain secara tetap, maka kemiringannya teratur.
Beberapa catatan tentang kontur sebagai berikut:
- Kontur adalah kontinyu (bersinambung). Sejauh mana pun kontur berada, tetap akan bertemu kembali di titik awalnya. Perkecualiannya adalah jika kontur masuk ke suatu daerah kemiringan yang curam atau nyaris vertikal, karena ketiadaan ruang untuk menyajikan kontur-kontur secara terpisah pada pandangan horisontal, maka lereng terjal tersebut digambarkan dengan simbol. Selanjutnya, kontur-kontur akan masuk dan keluar dari simbol tersebut.
- Jika kontur-kontur pada bagian bawah lereng merapat, maka bentuk lereng disebut konveks (cembung), dan memberikan pandangan yang pendek. Jika sebaliknya, yaitu merenggang, maka disebut dengan konkav (cekung), dan memberikan pandangan yang panjang.
- Jika pada kontur-kontur yang berbentuk meander tetapi tidak terlalu rapat maka permukaan lapangannya merupakan daerah yang undulasi (bergelombang).
- Kontur-kontur yang rapat dan tidak teratur menunjukkan lereng yang patah-patah. Kontur-kontur yang halus belokannya juga menunjukkan permukaan yang teratur (tidak patah-patah), kecuali pada peta skala kecil pada umumnya penyajian kontur cenderung halus akibat adanya proses generalisasi yang dimaksudkan untuk menghilangkan detil-detil kecil (minor).
Kenampakan yang tidak berubah dengan penggambaran kontur adalah bukit dan lembah. Bentuk permukaan lahan tidak berubah cukup berarti meskipun ada bangunan gedung, jalan, pemotongan pepohanan (hutan atau perkebunan). Penafsiran yang benar terhadap bentuk permukaan lahan membutuhkan latihan, praktek dan pengalaman yang memadai di lapangan.
Membuat Potongan Profil
Letakkan secarik kertas dengan tepi yang lurus sepanjang garis AB, dan tandai pada titik A dan titik B tersebut juga titik-titik di mana kontur-kontur memotong garis. Berilah label angka tinggi.
Kemiringan suatu lereng (slope) biasanya didefinisikan sebagai suatu gradien. Gambar di bawah ini menunjukkan sebuah gradien 2 dalam 16, artinya 2 unit vertikal untuk setiap 16 unit pada arah horisontal. Selama kedua unit tersebut sama pada kedua arah, maka tidak ada bedanya apapun satuan panjangnya (meter atau pun kaki). Gradien tersebut biasanya ditulis sebagai 2/16.
Untuk menentukan gradien yang paling terjal dari suatu jalan, temukan titik di mana dua kontur yang berturutan saling berdekatan, kemudian ukurlah seperti prosedur di atas.
Jika dibutuhkan untuk memeriksa bahwa gradien maksimum sepanjang suatu jalan tidak melebihi 1/6, dan interval kontur adalah 10 meter, maka jarak antara kontur-kontur tadi tidak boleh kurang dari 6 x 10 = 60 meter. Tandailah pada sepotong kertas suatu jarak 60 meter pada skala peta, interval kontur dapat diperiksa untuk melihat apakah jarak pada titik mana pun lebih pendek dari jarak yang ditentukan. Jika demikian halnya maka gradiennya lebih terjal dari 1/6.
Monday, August 23, 2010
Jenis-Jenis Tanah dan Proses Pembentukan Tanah
Interaksi antara faktor-faktor pembentuk tanah akan menghasilkan tanah dengan sifat-sifat yang berbeda. Berdasarkan pada faktor pembentuk dan sifat tanah inilah, beberapa ahli mengklasifikasikan tanah dengan klasifikasi yang berbeda.
Tingkat kategori yang sudah banyak dikembangkan dalam survei dan pemetaan tanah di Indonesia, yaitu tingkat kategori jenis (great soil group). Klasifikasi jenis-jenis tanah pada tingkat tersebut sering digunakan untuk mengelompokkan tanah di Indonesia
Tanah Organosol atau Tanah Gambut
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk organik dari hutan rawa,
mempunyai ciri warna cokelat hingga kehitaman, tekstur debulempung,
tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat sampai dengan agak lekat, dan kandungan unsur hara rendah. Tanah ini terbentuk karena adanya proses pembusukan dari sisa-sisa tumbuhan rawa. Banyak terdapat di rawa Sumatra, Kalimantan, dan Papua, kurang baik untuk pertanian maupun perkebunan karena derajat keasaman tinggi.
Tanah Aluvial
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan. Bahannya berasal dari material halus yang diendapkan oleh aliran sungai. Oleh karena itu, tanah jenis ini banyak terdapat di daerah datar sepanjang aliran sungai
Tanah Regosol
Tanah ini merupakan endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar. Penyebaran terutama pada daerah lereng gunung api. Tanah ini banyak terdapat di daerah Sumatra bagian timur dan barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Tanah Litosol
Tanah litosol merupakan jenis tanah berbatu-batu dengan lapisan tanah yang tidak begitu tebal. Bahannya berasal dari jenis batuan beku yang belum mengalami proses pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini banyak ditemukan di lereng gunung dan pegunungan di seluruh Indonesia.
Tanah Latosol
Latosol tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 mm/tahun, dan ketinggian tempat berkisar 300–1.000 meter. Tanah ini terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.
Tanah Grumusol
Jenis ini berasal dari batu kapur, batuan lempung, tersebar di daerah iklim subhumid atau subarid, dan curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun.
Tanah Podsolik
Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih 2.500 mm/ tahun. Tekstur lempung hingga berpasir, kesuburan rendah hingga sedang, warna merah, dan kering.
Tanah Podsol
Jenis tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Penyebaran di daerah beriklim basah, topografi pegunungan, misalnya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Papua Barat. Kesuburan tanah rendah
Tanah Andosol
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk abu vulkan. Penyebaran di daerah beriklim sedang dengan curah hujan di atas 2.500 mm/ tahun tanpa bulan kering. Umumnya dijumpai di daerah lereng atas kerucut vulkan pada ketinggian di atas 800 meter. Warna tanah jenis ini umumnya cokelat, abu-abu hingga hitam.
Tanah Mediteran Merah Kuning
Tanah jenis ini berasal dari batuan kapur keras (limestone). Penyebaran di daerah beriklim subhumid, topografi karst dan lereng vulkan dengan ketinggian di bawah 400 m. Warna tanah cokelat hingga merah. Khusus tanah mediteran merah kuning di daerah topografi karst disebut ”Terra Rossa”.
Hidromorf Kelabu
Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal yaitu topografi yang berupa dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air, dan warna kelabu hingga kekuningan.
Proses Pembentukan Tanah
Proses pembentukan tanah diawali dari pelapukan batuan, baik pelapukan fisik maupun pelapukan kimia. Dari proses pelapukan ini, batuan akan menjadi lunak dan berubah komposisinya. Pada tahap ini batuan yang lapuk belum dikatakan sebagai tanah, tetapi sebagai bahan tanah (regolith) karena masih menunjukkan struktur batuan induk.
Proses pelapukan terus berlangsung hingga akhirnya bahan induk tanah berubah menjadi tanah. Nah, proses pelapukan ini menjadi awal terbentuknya tanah. Sehingga faktor yang mendorong pelapukan juga berperan dalam pembentukan tanah.
Curah hujan dan sinar matahari berperan penting dalam proses pelapukan fisik, kedua faktor tersebut merupakan komponen iklim. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor pembentuk tanah adalah iklim. Ada beberapa faktor lain yang memengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu organisme, bahan induk, topografi, dan waktu. Faktor-faktor tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
Susunan Tanah
Friday, August 13, 2010
Pemetaan Topografi
Peta topografi adalah peta yang menggambarkan keadaan topografi permukaan bumi, baik mengenai unsur alami maupun unsur buatan manusia. Penyajian data tersebut sangat tergantung pada skala peta, semakin besar skala peta tersebut akan semakin rinci data yang dapat di sajikan, dan sebaliknya semakin kecil skala peta yang dibuat maka semakin kurang rinci pula data yang disajikannya.
Secara garis besar metode pemetaan topografi dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu metode teresteris, metode fotogrametris dan foto udara. (Subagio. 2000)
1. Metode teresterisPada dasamya pemetaan topografi ini terbagi atas tiga macam pekerjaan, yaitu pengukuran topografi, pengolahan data ukuran dan pencetakan peta.
Dalam metode teritris ini, semua pekerjaan pegukuran topografi dilakukan dilapangan dengan menggunakan peralatan ukur seperti : Theodolit; waterpas; alat ukur jarak; serta peralatan modem lainnya (GPS, total station dan lainya). Pengukuran topografi adalah pengukuran posisi dan ketinggian titik-titik kerangka pemetaan serta pengukuran detail topografi, sehingga dapat digambarkan diatas bidang datar dalam skala tertentu. Yang dimaksud dengan kerangka pemetaan adalah jaringan titik kontrol (X, Y) dan (Z) yang akan digunakan sebagai referensi pengukuran dan titik kontrol pengukuran. (Subagio. 2000)
2. Metode fotogrametrisPengukuran detail topografi (pengukuran situasi) selain dapat dilakukan langsung dilapangan dapat pula dilakukan dengan teknik pemotretan dari udara sehingga dalam waktu yang singkat dapat terukur atau terpotret daerah yang seluas mungkin.
Dalam metode fotogametri ini, pengukuran dilapangan masih diperlukan khususnya untuk menentukan titik kontrol tanah yang diprlukan dalam proses fotogametris selanjutnya.
Pada dasarnya metode fotogametris ini mencakup fotogametris metrik dan interprestasi citra. Fotogametris metrik merupakan ilmu dan teknik pengukuran citra, sedangkan interprestasi citra merupakan pengenalan serta identifikasi suatu objek pada foto. Dengan metode fotogametris ini, pengukuran tidak perlu dilakukan lansung dilapangan tetapi cukup dilaksanakan di laboratorium melalui pengukuran pada citra foto.
Untuk dapat melaksanakan pengukuran tersebut, diperlukan bebrapa titik kontrol pada setiap foto udara. Titik kontrol ini dapat dihasilkan dari proses fotogametris selanjutnya yaitu proses triangulasi udara yang bertujuan memperbanyak titik kontrol foto (titik kontrol minor) beradasarkan titik kontrol tanah yang ada. (Subagio. 2000)
3. Metode foto udaraFoto udara merupakan hasil pemotretan sebagian kecil permukaan bumi menggunakan kamera udara yang dipasang di atas pesawat terbang.
Dalam setiap kali pemotretan luas daerah yang tercakup sangat sempit dibandingkan dengan luas daerah yang akan dipotret. Agar seluruh daerah tertutupi dengan foto maka pemotretan hams dilakukan secara periodik dan terencana. Untuk itu harus dibuat rencana jalur pesawat terbang sedemikan rupa sehingga semua daerah dapat terfoto. (Subagio. 2000)
TEORI DASAR PENGUKURAN TANAH ( LAND SURVEYING )
- Pengukuran pada bidang datar, bidang yang dianggap datar adalah bidang yang mempunyai jarak terjauh 55 km (Sutomo Wongsocitro, Ilmu Ukur Tanah )
- Pengukuran geodesy, pengukuran yang memperhatikan lengkung permukaan bumi, karena kita tahu bahwa bumi itu berbentuk ellipsoid. Untuk perhitungan pengukuran pada bidang lengkung ini tidak semudah perhitungan pada bidang datar. Pengukuran ini mengunakan system kordinat dan proyeksi peta tertentu.
- Pengukuran Kadastral : BPN, PBB, Tata Kota ( DPPT DKI ).
- Pengukuran untuk pembangunan Basic Data Sistem Informasi Geografi ( S.I.G )
- Pembuatan peta rupa bumi : Bakosurtanal, Ditop AD, BPPT , dll.
- Rekayasa dan engineering, meliputi: perencanaan suatu kawasan, pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan gedung –gedung, pembangunan pabrik – pabrik petro kimia, kilang minyak atau secara umum untuk semua bidang konstruksi
- Pengukuran Untuk Explorasi dan Exploitasi Pertambangan.
- Pengukuran dasar sungai, danau, laut dan perairan lain yang juga disebut pengukuran Sounding atau Bathymetri, yang digunakan untuk pembuatan pelabuhan laut, alur pelayaran kapal, pembangunan Rige Anjungan minyak lepas, pantaidan jalur pipa gas/minyak bawah laut.
- Dan aplikasi pada bidang lain sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna data survey dan pemetaan.
- Pembantu juru ukur atau labour, orang yang membantu dalam suatu team pengukuran yang mempunyai atau tidak sama sekali pengetahuan tentang pengukuran misalnya tenaga local ( harian lepas ) yang direkrut dilokasi proyek.
- Petugas pemegang rambu ukur, meteran atau target yang disebut juga Chainman; orang yang membantu pengukuran yang mengetahui teory tentang pengukuran, mereka minimal tahu posisi atau detil – detil yang perlu diukur.
- Ast. Surveyor, orang yang mempunyai keahlian sebagai juru ukur yang bertugas mengambil data/ layout data dilapangan dan mampu mengunakan alat-alat ukur tanah, missal theodolit, Total station, Waterpas.
- Junior Surveyor, Orang yang sudah mampu untuk melaksanakan segala jenis pengukuran dan mampu menggunakan semua alat ukur, mengolah dan menampilkan data ukur dalam bentuk grafik ( gambar ) serta menguasi minimal salah satu program penggambaran ( CAD ). Surveyor juga harus dapat mengarahkan dan membimbing Ast. Surveyor.
- Surveyor, kemampuan teknis dan pengalamannya lebih daripada Junior Surveyor
- Senior Surveyor, kemampuan teknis dan pengalamannya lebih daripada Surveyor juga harus dapat
- a)Merencanakan dan mengatur suatu pekerjaan pengukuran,
- b)Menerapkan metode pengukuran yang efektif dan menerapkan spesifikasi standar pengukuran ( Ketelitian ) sesuai jenis pekerjaan dan lokasi pekerjaan yang dihadapi.
- c)Mampu mengatasi masalah teknis jika terjadi masalah dalam pengukuran.
- d)Mampu mengatur masalah teknis dan non teknis dilapangan
- e)Dapat membuat format-format laporan dan mengontrol kualitas pekerjaan surveyor.
- f)Mampu membuat laporan akhir suatu pekerjaan pengukuran.
- T0 Wild Wild Swizerland Manual
- T0. Fnr Wild Wild Swizerland Manual
- T1 Wild Wild Swizerland Manual
- T2 Wild Wild Swizerland Manual
- T3 Wild Wild Swizerland Manual
- T16 Wild Wild Swizerland Manual
- RDS Wild Wild Swizerland Manual
- RDH Wild Wild Swizerland Manual
- T100 Leica Leica geosystem Digital
- TC 600 Leica Leica geosystem Total station
- TC 800 Leica Leica geosystem Total station
- TC 1100 Leica Leica geosystem Total station
- TC 1100 Leica Leica geosystem Total station
- TC 1700 Leica Leica geosystem Total station
- TPS 300 Leica Leica geosystem Total station
- TPS 700 Leica Leica geosystem Total station
- TPS 1100 Leica Leica geosystem Total station
- TPS 1200 Leica Leica geosystem Dapat digabung dengan GPS
- GTS 210 Topcon Topcon, Japan Total station
- GTS 212 D Topcon Topcon, Japan Total station
- SET IIB Sokkia Sokkia, Japan Total station
- SET 4B Sokkia Sokkia Total station
- SET 3C Sokkia Sokkia Total station
- SET 500 Sokkia Sokkia Total station
- SET 600 Sokkia Sokkia Total station
- SET 300 Sokkia Sokkia Total station
- SET 310 Sokkia Sokkia, Japan Total station
- Garmin38 Garmin Navigasi
- Garmin 12cx Garmin Navigasi
- Eagle Explorer Trimble Navigasi
- Magellan GPS Tracker Magellan Navigasi
- 4000 SSE Trimble Geodetic
- 4000 SSi Trimble Geodetic
- Sytem 300 Leica Geodetic
- System 500 Leica Geodetic
- Prolink Sokkia Sokkia Untuk Download data TS
- Coms Sokkia Sokkia Untuk Download data TS
- Leica Office Leica Leica Untuk Download data TS Merk Leica
- LGO Leica Leica Untuk Download data TS dan GPS Merk Leica
- SKI Leica Leica Untuk Download data GPS Merk Leica
- Bernesse Untuk Download data GPS dan pengolahan data GPS
- Dipop Untuk Download data GPS dan pengolahan data GPS
- Gamit Untuk Download data GPS dan pengolahan data GPS
- Autocad / LDD Autocad Autodesk Untuk Semua jenis penggambaran ( Sofware yang paling luas Penggunaanya)
- SDR Map Sokkia Sokkia Untuk Download data TS ,Pengolah data dan penggambaran Semua pekerjaan pengukuran
- 12D Sokkia Sokkia Untuk Download data TS ,Pengolah data dan penggambaran Semua pekerjaan pengukuran
- Geocom Geocom Untuk Download data TS ,Pengolah data dan penggambaran Semua pekerjaan pengukuran
- Surpac Pengolah data pekerjaan pengukuran dan Pengolahan data Geologi ( Geologi Modeling
- Terramodel Terramodel Spectra Untuk Download data TS ,Pengolah data dan penggambaran Semua pekerjaan pengukuran
- Surfer ,Pengolah data dan penggambaran Semua pekerjaan pengukuran
- Micromine Pengolah data dan penggambaran Semua pekerjaan pengukuran ( Pertambangan )
- Minescape Mincom Pengolah data pekerjaan pengukuran dan Pengolahan data Geologi ( Geologi Modeling )
- Vulvcan Pengolah data pekerjaan pengukuran dan Pengolahan data Geologi ( Geologi Modeling
- Mapinfo Esri Pengolah data pekerjaan pengukuran dan Sotfware Sisti informasi Geografis
- Arc Info Esri Pengolah data pekerjaan pengukuran dan Sotfware Sisti informasi Geografis
- Ermapper Pengolah data Citra Satelit dan Software Sisti informasi Geografis
- Dan lain – lain
- c2= a2 +b2 sin 2+ cos 2 = 1
- sin = c/a cosec = 1/sin
- cos = c/b sec = 1/cos
- Tan = a/b cot = 1/tan
- Total Station 1 unit Kondisi baik
- Tripod 3 unit
- Reflektor 2 unit
- Stick 1 unit
- Alat Tulis
- Meteran kecil 2 buah
- Form data poligon secukupnya
- Radio HT 3 buah
- Daftar Kordinat BM Jika ada
- Payung 1 buah
- Peta/gambar lokasi Jika ada
survey eksplorasi batubara
1. Pengukuran BM yang mengacu ke Sistem Kordinat Nasional ( UTM, WGS 84 )
B. T.O.R PENGUKURAN POLIGON UTAMA
- Semua alat ukur yang digunakan untuk pengukuran polygon harus dicek atau ditest ulang kondisinya sebelum dipakai dilapangan walaupun sudah dikalibrasi, mungkin pada saat mobilisasi terkena guncangan atau benturan.
- Konstanta prisma target untuk pengukuran jarak dengan TS harus dicek kembali sebelum digunakan.
- Jarak Tembakan hasil TS harus dicek minimal dengan pita ukur baja sebelum mulai digunakan dilapangan.
- Poligon dimulai dari titik ( BM ) yang sudah ada, BM harus jelas deskripsinya, pengukuran poligon minimal menggunakan dua buah BM; satu untuk station awal satunya lagi untuk orientasi ( Backsight ).
- Pengukuran polygon harus membentuk loop tertutup, jika menggunakan dua buah BM harus kembali ketitik awal. Dan jika polygon terikat sempurna, rangkaian polygon harus terikat diawal dan diakhir poligon, minimal harus menggunakan empat buah BM.
- Pengukuran sudut polygon harus menggunakan Total Station yang mempunyai ketelitian pembacan minimal 3” ( 3 detik ).
- Pengukuran sudut minimal dengan metode satu serie ( didapat dua bacaan sudut untuk setiap arah ).
- Kesalahan pengukuran sudut minimal 5”√n, n adalah banyaknya titik yang ditempati instrument.
- Pengukutan jarak menggunakan EDM atau Total Station.
- Pengukuran jarak menggunakan metode satu serie, sehingga didapat empat macam bacaan jarak, jarak ini akan dirata-rata.
- Kesalahan pengukuran linear poligon minimal harus 1 : 10000.
- Ketelitian pengukuran elevasi mengunakan alat TS 50√D, D jarak dalam Km.
- Penulisan data lapangan harus menggunakan form standar.
- Penulisan data lapangan sampai ketelitian detik untuk sudut dan sampai ketelitiam millimeter untuk jarak.
- Jika ada kesalahan penulisan data ukur, data tidak dihapus atau ditimpa penulisanya, cukup dicoret yang salah denga satu garis dan menuliskan data yang benar diatas atau dibawah data yang dicoret.
- Data ukur harus disertai sket yang jelas dan rapih.
- Kordinat hasil pengukuran polygon dibuat daftarnya.
- Kordinat hasil pengukuran diplot dengan software CAD.
C. T.O.R PENGUKURAN POLIGON CABANG
- Semua alat ukur yang digunakan untuk pengukuran polygon harus dicek atau ditest ulang kondisinya sebelum dipakai dilapangan walaupun sudah dikalibrasi, mungkin pada saat mobilisasi terkena guncangan atau benturan.
- Konstanta prisma target untuk pengukuran jarak dengan TS harus dicek kembali sebelum digunakan.
- Jarak Tembakan hasil TS harus dicek minimal dengan pita ukur baja sebelum mulai digunakan dilapangan.
- Pengukuran polygon cabang dimulai dari titik-titik polygon utama.
- Pengukuran polygon harus membentuk loop tertutup, jika menggunakan dua buah BM harus kembali ketitik awal. Dan jika polygon terikat sempurna, rangkaian polygon harus terikat diawal dan diakhir poligon, minimal harus menggunakan empat buah BM.
- Pengukuran sudut polygon harus menggunakan Total Station yang mempunyai ketelitian minimal 3” ( 3 detik ).
- Pengukuran sudut minimal dengan metode satu serie ( didapat dua bacaan sudut untuk setiap arah ).
- Kesalahan pengukuran sudut minimal 10”√n, n adalah banyaknya titik yang ditempati instrument.
- Pengukutan jarak menggunakan EDM atau Total Station.
- Pengukuran jarak menggunakan metode satu serie, sehingga didapat empat macam bacaan jarak, jarak ini akan dirata-rata.
- Kesalahan pengukuran linear poligon minimal harus 1 : 5000.
- Ketelitian pengukuran elevasi mengunakan alat TS 50√D, D jarak dalam Km.
- Penulisan data lapangan harus menggunakan form standar.
- Penulisan data lapangan sampai ketelitian detik untuk sudut dan sampai ketelitiam millimeter untuk jarak.
- Jika ada kesalahan penulisan data ukur, data tidak dihapus atau ditimpa penulisanya, cukup dicoret yang salah denga satu garis dan menuliskan data yang benar diatas atau dibawah data yang dicoret.
- Data ukur harus disertai sket yang jelas dan rapih.
- Kordinat hasil pengukuran polygon dibuat daftarnya.
- Kordinat hasil pengukuran diplot dengan software CAD.
D. T.O.R PENGUKURAN BASELINE
- Arah dan panjang baseline harus direncanakan dahulu diatas peta kerja.
- Arah baseline ditentukan oleh team Geologi, atau kesepakatan semuan team.
- Pengukuran Baseline harus dimulai dari titik polygon ( BM ) utama yang sudah mempunyai spesifikasi pengukuran polygon utama. Baseline dapat dibuat sebagai polygon utama ataupun sebagai polygon cabang.
- Pengukuran Baseline harus terikat diawal dan diakhir pada polygon utama.
- Pada saat pengukuran Baseline dipasang patok – patok untuk pengukuran line bor ( cross-line ) dengan jarak sesuai rencana, misalnya per 200 meter.
- Penamaan dan penomoran patok polygon dan patok cross-line harus direncanakan dan disetujui oleh semua team lapangan.
- Setiap patok pengukuran dilapangan harus diberi nama atau nomor patok serta diberi pita warna.
- Ketelitian pengukuran Baseline sesuai dengan pengukuran polygon cabang.
- Perubahan topografi disepanjang jalur baseline harus diukur untuk penggambaran penampang memanjang.
- Kordinat hasil pengukuran baseline dibuat daftarnya.
- Kordinat hasil pengukuran diplot dengan software CAD.
E. T.O.R PENGUKURAN CROSSLINE
- Pengukuran crossline ( line bor ) dimulai dari patok – patok rencana cross-line (misalnya jarak antar crossline 200 meter) yang sudah dipasang dan diukur pada saat pengukuran jalur baseline.
- Arah pengukuran crossline biasanya tegak lurus terhadap arah baseline.
- Pengukuran crossline harus memenuhi ketelitian dalam pengukuran polygon cabang.
- Setiap patok pengukuran dilapangan harus diberi nama atau nomor patok serta diberi pita warna.
- Penamaan dan penomoran patok pengukuran harus direncanakan dan disetujui oleh semuan team lapangan.
- Pada saat pengukuran crossline untuk setiap jarak kurang lebih 50 meter harus terpasang patok, patok ini dapat sebagai patok polygon ataupun sebagi patok sislah ( detil ).
- Perubahan topografi serta detil – detil alamiah ( sungai, selokan, danau, rawa-rawa,singkapan, dsb ) dan detil – detil buatan ( Jalan, bangunan ) harus diukur.
- Setiap jalur crosline harus digambar penampang melintangnya ( gambar cross-section ).
F. T.O.R PEMATOKAN ( STAKEOUT ) DAN PENGUKURAN ULANG ( RESURVEY ) TITIK BOR
- Kordinat dan nama titik – titik rencana pengeboran dibuat oleh Geologist dan diserahkan ke surveyor untuk dipatok dilapangan.
- Surveyor melaksanakan pematokan rencana titik bore dari patok-patok hasil pengukuran line bor ( cross-line ).
- Titik – titik rencana pengeboran dilapangan harus di beri nama serta pita warna yang menyala dan warnanya harus dibedakan dengan pita patok –patok survey.
- Surveyor memberikan laporan ke geologist bahwa titik – titik rencana pengeboran sudah dipatok serta melaporkan juga kondisi lapangan tempat rencana titik bor tersebut jika ada ketidak cocokan antara rencana dipeta kerja dengan kondisi dilapangan.
- Surveyor melakukan pengukuran kembali titik –titik bor yang sudah selesai dibor oleh team pengeboran.
- Posisi target saat pengukuran kembali titik bor harus ditengah – tengah lubang pengeboran, jangan mengukur bor diatas patok titik bor.
- Surveyor menghitung serta mengarsipkan kordinat hasil pengukuan titik bor.
- Surveyor harus melaporkan serta menyerahkan data hasil pengukuran bor ( data kordinat, data lapangan ) kepada team Geologi.
- Surveyor harus memplotkan posisi kordinat bor dengan software CAD.










